Rabu, 18 September 2013

TRADISI MASYARAKAT KALIMANTAN



TRADISI MASYARAKAT KALIMANTAN IBU MELAHIRKAN

Fase Melahirkan dalam budaya Suku Dayak mengisyaratkan perlunya sejumlah persiapan termasuk persiapan perlengkapan suku dayak menjelang persalinan. Pada proses jelang melahirkan bayi atau Awau, sang calon ibu dibaringkan pada sebuah dipan kecil dengan posisi miring terbuat dari kayu yang disebut Sangguhan dengan motif ukiran Dayak di masing-masing sisi.Kemudian saat melahirkan, disiapkan pula Botol Mau sebagai tempat untuk menungku perut ibu agar darah kotor cepat keluar. Selain sebagai perlengkapan suku dayak menjelang persalinan Botol Mau ini juga digunakan untuk menyiman air panas.Selanjutnya, keluarga yang melahirkan juga perlu menyiapkan Kain Bahalai (Jarik dalam bahasa Jawa) dengan lapisan yang berbeda. Tujuh lapis kain bahalai saat menyambut bayi laki-laki dan lima lapis kain bahalai untuk bayi dengan jenis kelamin perempuan. Walaupun sebagai peralatan penunjang, keberadaannya dalam persiapan prosesi persalinan menurut budaya Suku Dayak mutlak diperlukan.Pada fase ketika bayi telah lahir, maka tali pusar atau ari-ari bayi dipotong menggunakan sebuah sembilu. Untuk tahap pertama dan pemotongan terakhir ari-ari dengan uang ringgit. Kedua perlengkapan suku dayak menjelang persalinan tersebut disiapkan sejak awal dalam sebuah piring atau Paraten. Sedangkan ari-ari yang terpotong tadi disimpan di dalam Kusak Tabuni.Bayi (awau) yang baru lahir dimandikan dalam Kandarah, dan popok bayi yang digunakan disimpan dalam Saok. Bagi sang ibu setelah melahirkan biasa menggunakan Stagen (Babat Kuningan) untuk mengikat perut agar mengembalikan perut ibu ke kondisi semula dengan cepat. Tentunya untuk menjaga tubuh ibu setelah melahirkan dan juga berfungsi untuk berjaga-jaga dalam kondisi yang tidak terduga seperti sulitnya bayi keluar, masyarakat Dayak memiliki cara yang khas dan bernuansa magis, yakni menggunakan buah kelapa yang bertunas untuk kemudian disentuhkan ke arah selaput bayi. Tujuan perlengkapan suku dayak menjelang persalinan tersebut adalah agar dapat membuka ruang sehingga bayi dapat keluar dengan mudah.

MASUKNYA SISTEM PENGOBATAN MODERN DI KALIMANTAN

Bagi Suku Dayak di pedalaman Kalimantan, penyakit beserta pengobatannya, sangat erat kaitannya dengan alam religius mereka tentang ajaran Kaharingan. Masyarakat Dayak cenderung melihat penyebab dari suatu penyakit dengan cara metafisik. Suku Dayak mempercayai Balian sebagai penyembuh mereka. Masyarakat Dayak biasa menggunakan ritual tertentu yang dipimpin oleh seorang Balian dalam pengobatan suatu penyakit.Bagi masyarakat Dayak keberadaan Balian sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Balian adalah seorang perempuan yang bertugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dengan mahluk lain yang keberadaannya tidak terlihat secara kasat mata. Balian menduduki tempat yang penting dalam kebudayaan Dayak. Masyarakat Dayak percaya bahwa Balian memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh setiap orang, oleh karenanya Balian mampu mengobati penyakit terutama penyakit-penyakit yang mereka percaya disebabkan oleh mahluk halus.Jangan membuat kulit ketupat pada masa hamilorang tua percaya , karena daun kelapa untuk kulit ketupat harus dianyam tertutup rapat oleh wanita hamil, dikuatirkan bayi yang lahir nanti kesindiran , tertutup jalan lahirnya.


 PANTANGAN BAGI PEREMPUAN HAMIL.

Kehamilan adalah peristiwa alam yang harus dijaga dan dirawat dengan benar. Dalam keadaan hamil, demi menjaga kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi yang akan dilahirkan, banyak pantangan yang harus ditaati. Misalnya :
Dilarang mandi dan minum air yang berasal dari sumur, alasannya air sumur tidak mengalir. Dikhawatirkan ditempat tersebut banyak mahluk yang keberadaannya tidak terlihat mata jasmani. Diyakini bahwa air sumur yang digunakan untuk mandi atau diminum oleh ibu hamil, bisa mengakibatkan demam, atau pendarahan akibat diganggu mahluk halus penunggu sumur.
Dilarang makan lombok khususnya cabe rawit. Dikhawatirkan tubuh bayi meradang merah bagai tersiram air panas. Dilarang pula makan sayur mayor yang tumbuh menjalar. Dilarang makan makanan yang telah diawetkan, khawatir sibayi terkena sakit kuping bernanah.
Dilarang mandi hujan terutama ketika petir kilat sambar menyambar.
Dilarang makan ikan bakar, dilarang makan makanan kedaluasa.
Dilarang mandi dibagian sungai yang terdalam.
Dilarang makan makanan yang dimasak dengan menggunakan kayu yang kerdil tumbuhnya, dikhawatirkan pertumbuhan anak akan terganggu.
Dilarang makan makanan dengan cara menjumput dari panci tempat memasak, masuk langsung kemulut.
Dilarang makan makanan yang dimasak dengan menggunakan kayu yang ditumbuhi cendawan.
Dilarang makan buah yang jatuh dari pohon dan tersangkut di antara cabang dan ranting sehingga buah tersebut tidak jatuh ketanah. Maksudnya agar bayi lahir lancar, tidak tersangkut seperti buah yang tersangkut tadi.
Dilarang mengumpulkan kayu bakar dimana ranting dan cabang kayunya terendam diair. Maksudnya agar ari-ari bayi tumbuh normal. Tidak berukuran terlalu besar. Karena kalau terlalu besar, disaat proses persalinan akan sulit keluar.
Dilarang makan sambil berjalan agar anak tidak lahir disembarang tempat. Masih banyak lainnya. Larangan bagi suami :
Ketika isteri dalam keadaan mengndung anak mereka, suami dan seisi rumah dilarang duduk dengan kaki berjuntai kebawah terlebih apabila badan didalam rumah dan kaki berjuntai arah luar rumah. Alasannya, karena dikhawatirkan bayi yang lahir akan meniru. Maksudnya ketika proses persalinan kaki bayilah yang keluar lebih dahulu. Tentu saja hal ini sangat membahayakan.
Suami dilarang membuat patung, juga dilarang membuat beberapa jenis peralatan menangkap ikan. Untuk menghindari bayi lahir cacat. Pada saat isteri hamil, suami pantang berkelahi dengan isterinya. Alasan, agar isteri tidak mengalami pendarahan. Masih banyak lainnya.

PENGOBATAN SUKU DAYAK KALTENG

1.     Pengobatan bukan herbal dan ritual  
Pengobatan ini tidak menggunakan bahan tumbuh-tumbuhan atau hewan atau ritual tertentu
tetapi menggunakan doa-doa atau mantra-mantra tertentu dengan media tertentu seperti,air,kapur sirih,telur ayam,dll
Contoh : Tawar Payawen/Puji Liau
Sandung Rahayung Gitang Gitung
Hatu Matei Mapas Petak
Liau Buli Matang Sandung
Yang terpenting adalah pengucapan mantra,media yang di gunakan,cara,pantangan.

2.     Pengobatan ritual
Pengobatan ritual di lakukan karena adanya petunjuk baik dari dalam diri sendiri (mimpi,petunjuk yang lain) atau dari orang lain ( juru sangiang atau orang lain ).
Terjadi karena adanya sebab akibat pengobatan ritual kebanyakan ada roh aktif yang menjadi penyebabnya (personalistik) pengobatan dayak ngaju banyak menggunakan media beras.
Setelahnya adanya pantangan tertentu.

Jenis –jenis pengobatan ritual
1.       Nyadiri/ngapatung
Ritual yang dilakukan jika seseorang atau orang lain yang bermimpi buruk tentang dirinya dan orang lain.
2.       Nulak peres
Ritual yang dilakukan jika banyak orang yang meninggal atau terkena wabah penyakit dalam satu kampung.
3.       Nulak sial
Ritual yang di lakukan jika seseorang terkena sial/banyak hal yang tidak di harapkan dalam hidup.
4.       Sangiang bandar/badewa
Ritual yang dilakukan dengan meminta bantuan seseorang sangiang untuk menurunkan bandar dari lewu telu di luwuk dalam betawi.

5.       Batuhir/nganan parasat
Ritual yang dilakukan untuk membuang darah tidak baik (meninggal tidak wajar) seperti di sambar buaya, tertimpa kayu, tabrakan,dll
6.       Mangacak
Ritual yang dilakukan di mana sesajen di taruh di dalam ancak yang terbuat dari bambu
7.       Manyambuhul/balaku untung
Ritual yang dilakukan untuk memohon untung aseng panjang (umur panjang).
8.       Pakanan dahiang
Ritual yang dilakukan jika seseorang mendapat petunjuk terjadinya dahiang di dalam kehidupanya





1 komentar:

  1. Anak saya kls 4 dpt tugas ttg sangiang badewa..sy krg ngerti sbtlnya sangiang badewa itu sndr bgm ya?apkh bs dijelaskan dg bahasa yg sederhana u awam.tmn2 anak sy yg lain dpt tugas yg beda2 ..makasih byj u masukannya.

    BalasHapus